RCerita Riaukep
Sejarah Kerajaan Siak & Peninggalan Melayu Riau

Jejak Kerajaan Siak: Istana Asserayah Hasyimiah dan Peninggalan Melayu di Sepanjang Sungai Siak

Jejak Kerajaan Siak lewat Istana Asserayah Hasyimiah dan peninggalan Melayu di sepanjang Sungai Siak, dari siak sri indrapura hingga pesisir.

Jejak Kerajaan Siak: Istana Asserayah Hasyimiah dan Peninggalan Melayu di Sepanjang Sungai Siak

Ringkasan Cepat

  • Istana Asserayah Hasyimiah dibangun pada masa Sultan Syarif Hasyim, sultan ke-11 Kerajaan Siak.
  • Kompleks istana berada di Siak Sri Indrapura, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, di tepi Sungai Siak.
  • Bangunan istana memadukan arsitektur Melayu, Eropa, dan Islam, dengan warna kuning khas.
  • Di dalam kompleks terdapat Masjid Syahabuddin dan makam sultan-sultan Siak.
  • Sungai Siak menjadi jalur utama perdagangan dan penyebaran Islam di kawasan pesisir Riau.

Sungai Siak dan Jalan Kerajaan

Dari Km 100 Jalan Lintas Sumatra, perjalanan menuju Siak Sri Indrapura melewati kebun kelapa sawit dan permukiman Melayu. Setelah jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah, Kota Siak muncul di tepi sungai. Air Sungai Siak yang keruh kecokelatan sudah menjadi denyut perdagangan sejak abad ke-18. Kapal dari Selat Malaka masuk ke pedalaman, membawa kain, rempah, dan timah. Kerajaan Siak berdiri pada 1723 oleh Raja Kecil, keturunan Sultan Johor. Pusat pemerintahan berpindah-pindah, lalu menetap di Siak Sri Indrapura. Sungai Siak bukan sekadar latar. Ia jalur logistik, pertahanan, dan penyebaran Islam di pesisir timur Sumatra.

Istana Asserayah Hasyimiah

Istana Asserayah Hasyimiah berdiri di Kelurahan Kampung Dalam, Kecamatan Siak. Sultan Syarif Hasyim memerintahkan pembangunannya pada awal abad ke-20. Nama istana diambil dari nama sultan sendiri. Bangunan dua lantai ini memadukan arsitektur Melayu, Eropa, dan Islam. Warna kuning mendominasi dinding, dengan atap sirap dan ornamen ukiran. Di dalamnya ada ruang singgasana, balairung, dan kamar sultan. Beberapa perabot asli masih tersimpan, termasuk kursi, meja, dan lampu kristal. Kompleks istana juga mencakup Masjid Syahabuddin dan makam sultan. Pada 2025, kawasan ini dikelola sebagai situs cagar budaya dan tujuan wisata sejarah. Tiket masuk relatif terjangkau. Pengunjung wajib menjaga kebersihan dan tidak menyentuh benda koleksi.

Peninggalan Melayu di Sepanjang Sungai

Selain istana, jejak Kerajaan Siak tersebar di beberapa titik. Masjid Syahabuddin masih digunakan salat lima waktu. Arsitekturnya serupa istana, dengan warna kuning dan menara ramping. Di sekitar Siak, rumah-rumah panggung kayu masih berdiri di tepi sungai. Sebagian warga menjual tenun Siak dan makanan lokal seperti bolu kemojo. Tenun Siak dikenal dengan motif pucuk rebung dan tabir. Motif ini menjadi identitas Melayu Riau. Di hulu Sungai Siak, permukiman suku Sakai dan Talang Mamak masih mempertahankan tradisi. Mereka hidup dari kebun karet, sawit, dan hasil hutan. Sungai Siak juga menghubungkan Siak dengan Pekanbaru dan pesisir Selat Malaka. Perahu kayu masih melintas, meski jumlahnya berkurang. Peninggalan Melayu di sini bukan hanya bangunan, tetapi juga bahasa, adat, dan kuliner.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Di mana lokasi Istana Asserayah Hasyimiah?

Istana ini berada di Kelurahan Kampung Dalam, Kecamatan Siak, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, tepat di tepi Sungai Siak.

Siapa yang membangun Istana Asserayah Hasyimiah?

Istana dibangun pada masa Sultan Syarif Hasyim, sultan ke-11 Kerajaan Siak, pada awal abad ke-20.

Apa saja yang bisa dilihat di kompleks istana?

Bangunan istana dua lantai, Masjid Syahabuddin, makam sultan, serta koleksi perabot dan benda bersejarah.

Apakah tenun Siak masih diproduksi?

Ya, tenun Siak masih dibuat oleh perajin lokal, terutama dengan motif pucuk rebung dan tabir, dan dijual di sekitar Siak.